oleh

Masyarakat Keluhkan Buang Sampah Sembarangan

banner 728x90

REJANG LEBONG,bengkulupost.co.id- ALAM memiliki kekayaan yang begitu berlimpah bagi manusia, bahkan bagi semua mahluk hidup lainnya. Ketidakseimbangan alam akan membuat ketidakstabilan bumi sehingga kehidupan makhluk di bumi akan terancam. Apalagi, di zaman sekarang perkembangan di segala bidang telah menunjukan angka yang signifikan namun hal tersebut tidak diimbangi dengan kelestarian alam yang telah ada untuk manusia.

tumpukan sampah di sepanjang Jalan Poros Desa Tabarenah menuju Desa Sukarami terkesan sangat jorok dan tidak sehat

Di era milenium ini, lingkungan hidup telah terkikis karena ulah tangan tidak bertanggung jawab, salah satunya adalah membuang sampah sembarangan. Bagi sebagian orang, sampah mungkin dipandang hal biasa dan tidak dipedulikan. Namun, yang jadi masalah adalah ketika sampah tersebut dibuang sembarangan oleh seseorang, baik di jalan umum, sarana dan prasarana umum, maupun di aliran sungai. Akibatnya, terjadi penumpukan sampah di beberapa titik, bila diumpamakan suatu penyakit, mungkin sudah sampai tingkat stadium empat.

Sampah terbagi dalam dua jenis, yaitu sampah organik dan non-organik. Penempatan tempat sampah biasanya juga dibedakan untuk kedua jenis sampah tersebut. Hal ini, guna memudahkan petugas kebersihan memilah sampah. Namun yang terjadi, terkadang seseorang merasa malas untuk membuang sampah di tempatnya, padahal tempat sampah hanya berjarak beberapa meter dari dia berada. Ini mengindikasikan, lemahnya kesadaran seseorang dalam menjaga kebersihan dan keasrian alam.

Padahal alam hadir dengan keelokan yang rupawan untuk manusia. Tanpa tatanan manusia, alam telah terbentuk dengan sendirinya. Namun yang terjadi sekarang, manusia telah mencoreng keelokan alam. Buang sampah sembarangan ketika sedang mengendarai kendaraan pun sering dilakukan masyarakat, bayangkan bila masyarakat lain mengikuti jejak tersebut. Alhasil, bumi akan penuh dengan lautan sampah. Tidak jarang ketika sampah menumpuk, yang keluar dari mulut manusia adalah keluhan dan hujatan.

Sosialisasi buang sampah pada tempatnya, dirasa kurang maksimal karena biasanya menggunakan spanduk dan pamflet saja. Seharusnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya disosialisasikan secara preventif dan melalui komunikasi tatap muka oleh pemerintah sehingga menimbulkan memori dan tersimpan dalam mindset masyarakat. Jika perlu, ada tindakan tegas kepada pelaku yang membuang sampah sembarangan namun bukan berarti mengenakan sanksi denda karena hal itu akan berbuntut masalah baru, yaitu korupsi. Yang dimaksud tindakan tegas adalah hukum kurungan langsung atau sanksi moral. Pembentukan satuan aparat pun dirasa perlu, agar fokus menangani masalah tersebut.

Lembaga yang berwenang menangani masalah sampah, yaitu  pemerintah, juga dirasa kurang memaksimalkan pelayanannya kepada masyarakat. Kedatangan truk sampah yang tidak tepat waktu tak jarang membuat banyaknya keluhan di masyarakat karena tumpukan sampah telah membusuk. Budaya kuat pun dirasa tidak ada sehingga memunculkan pesimisme di masyarakat kepada pemerintah.

Sampah yang busuk, dapat merusak kontur tanah dan berakibat rusaknya pohon-pohon. Bila tanah rusak akibat tercemar polusi dari sampah, bisa dikatakan menjadi malapetaka karena tanah merupakan penyangga kehidupan di bumi ini. Pasti semua mahluk hidup yang bergantung dengan adanya tanah akan mengalami ancaman dalam kelangsungan hidup. Dampak yang besar ini hanya karena kebiasaan kita membuang sampah sembarangan.

Sampah berserak yang di buang tidak pada tempatnya sangat mengganggu lingkungan seperti yang terjadi di sepanjang Jalan Tabarenah Kecamatan Curup Utara menuju Desa Sukarami Kecamatan Bermani Ulu.

“Ya saya mau buang sampah dimana lagi ,sebab pemerintah setempat kurang tanggap dengan permasalahn sampah di sini,seharusnya pemerintah setempat terutama Dinas DLH Kabupaten Rejang Lebong mengupayakan tempat pembuangan sampah yang layak sehingga masyarakat akan merasa lebih bertanggung jawab dalam hal membuang sampah,”keluh salah seorang warga yang kepergok membuang sampah sembarangan.

“Saya merasa kecewa dengan pemerintah karena sampah menggunung dan kadang menyumbat aliran air juga lahan persawahan menjadi tercemar dan tumbuhan mati, harusnya pemerintah sedikit luangkan waktunya untuk meninjau daerah yang di rasa kumuh dan layak di perhatikan, bukan berkonsentrasi di lingkungan Kota saja,”tegas salah seorang pemilik lahan pertanian di daerah tersebut.

Mujiono,salah seorang pemilik lahan persawahan di lokasi tersebut juga memberikan komentar yang mengkritisi Dinas setempat pasalnya,lahan pertanian sawah yang biasanya menghasilkan kurang lebih 15 sampai 16 kaleng beras kini tidak bisa ditanami lagi karena lahan menjadi rusak tertimbun material sampah.Warga disekita TPA juga keluhkan hal yang sama, akibat tumpukan sampah yang tidak pada tempatnya mengakibatkan bau tidak sedap,lalat dimana mana dan air menjadi tercemar.Lingkungan sekitar jadi tidak sedap di pandang mata dan tidak sehat juga terkesan jorok.

Apalagi di sekitar sungai Tabarenah ,warga kerap kali memanfatkan air sungai untuk mencuci dan mandi, bila sampah berserakan di sepanjang aliran sungai bisa jadi setelah mandi di sungai akan timbul iritasi bahkan sakit.Habitat berupa ikan sungai mati dan lingkungan menjadi tidak sehat.

Warga setempat berhara pada upaya dari pemerintah menertibkan pembuangan sampah agar kedepan Rejang Lebong yang telah menyandang Adipura sebagai Kota bersih dan sejuk bisa di pertahankan.

Membangun kesadaran masyarakat mengenai arti pentingnya membuang sampah, seharusnya menjadi fokus pemerintah dan masyarakat itu sendiri karena yang terjadi sekarang, perbandingan masyarakat yang sadar dan cuek dalam hal membuang sampah, 1:10 orang. Psikologi dalam individualitas sekarang ini dirasa meresahkan karena menjadi polemik. Kelestarian alam, tidak bisa dilestarikan hanya oleh beberapa orang saja, kerja sama antar masyarakat dalam skala besar dibutuhkan untuk menciptakan kelestarian alam.

Bila masalah sampah dibiarkan maka sudah pasti keseimbangan alam terganggu. Bisa dibuktikan sekarang ini, banjir di mana-mana, banyaknya penyakit yang timbul akibat banjir, bau yang menyengat, tanah longsor, bahkan polusi udara. Ketika banjir datang, masyarakat pun sudah tidak takut lagi, justru sudah berteman dengan banjir. Polemik yang berkepanjangan ini masih menjadi daftar pemerintah untuk diselesaikan. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat di semua lapisan, dirasa perlu untuk menciptakan alam yang bersih dari sampah.

Jadi, kesadaran kita untuk membuang sampah pda tempatnya, harus digalakan mulai dini. Meski langkah kecil, namun, bila dilakukan bersama, alam yang indah dan bersih dari sampah, bukanlah impian semata. Karakter yang kuat untuk meyayangi bumi ini harus ditanamkan dari sekarang, untuk bumi yang lebih baik. (DARLIN)

Bagikan

Tentang Penulis: Adjie Satria

Gambar Gravatar
BENGKULUPOST.CO.ID adalah Situs Berita Online yang mempublikasikan informasi harian secara Real Time. BENGKULUPOST.CO.ID berbadan hukum PT Megapers Media Informasi.Akta Notaris No.39 Tanggal 29 Juni 2016 ,Elia Heriani,SH,M.Kn,Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0016578.AH.01.11.tahun 2016 Tanggal 11-07-2016 NPWP: 76.471.666.8-327.000 Telpon.: 0822 9011 3369/0822 9011 3379

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed