oleh

Banjir Bandang Sungai Padang Guci Menghantam TPU Desa Ulak Agung

banner 728x90

Kaur, Bengkulu Post.co.id,Kejadian banjir bandang ini pada hari Selasa (4/12/18) sekira pukul 4.00 Wib.

Dikirim oleh Bengkulu Post pada Selasa, 04 Desember 2018

Berdasarkan pantauan Camat Padang Guci Hilir Ali Suanadi,SPd bahwa, Arus sungai Padang Guci ini sudah menghanyutkan 4 buah makam warga Desa Ulak Agung Kecamatan Padang Guci Hilir.
Saat ini Arus Sungai Padang Guci terus menelusuri lahan pemakaman sehingga akan mengancam 6 buah makam warga desa Ulak Agung pada beberapa waktu yang akan datang, kata Camat Ali Suanadi,SPd belum lama ini.

Padang Guci Hilir adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. Wilayah Kecamatan Padang Guci Hilir di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Kemuning, sebelah Timur Berbatasan dengan Kelam Tengah, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Selatan, dan sebelah Utara berbatasan dengan Padang Guci Hulu. Luas wilayah Kecamatan Padang Guci Hilir 18.900 KM2 yang terbagi menjadi 9 desa. Yakni Desa Pulau Panggung, Desa Talang Besar, Desa Talang Jawi I, Desa Talang Jawi II, Desa Air Kering, Desa Air Kering II, Desa Talang Padang, Desa Gunung Kaya, Desa Ulak Agung.

Dari hasil investigasi setidaknya ada 7 desa yang kerap dilanda banjir yakni Desa Air Dikit I, Desa Air Dikit II Desa Talang Jawi I, Desa Talang Jawi II, Desa Gunung Agung, Desa Talang Besar, dan Desa Ulak Agung. Kondisi saat ini kerap terjadi pencurian kayu (illegal Logging) di Hulu Sungai Padang Guci. Akibat dari illegal logging ini mengakibatkan banjir besar ketika hujan di Hulu Sungai dan mengikis bibir sungai Padang Guci. Tidak kurang dari 30 rumah warga di desa Talang Jawi I dan Talang Jawi II saat ini kondisinya mengenaskan. Jarak antara bibir sungai dan rumah warga tinggal 1 meter lagi. Warga saat ini dalam kondisi cemas jika terjadi hujan lebat di hulu sungai yang dapat menyebabkan banjir.
Dalam catatan masyarakat setidaknya telah 4 kali mengalami banjir bandang besar yang menghantam pemukiman penduduk, yakni tahun 1991, 1992, 2000 dan tahun 2001. Pada saat itu kerugian yang diderita warga tidak tercatat baik oleh pemerintah maupun warga. Banjir tersebut mengakibatkan 1 orang warga meninggal dunia terbawa arus sungai, puluhan rumah rusak, hanyutnya hewan ternak seperti sapi, kerbau, rusaknya usaha kolam warga, serta hancurnya ratusan hektar sawah milik petani.

Kondisi Sungai Padang Guci menurut warga saat ini memang sudah tidak dapat diprediksi lagi seperti dahulu. Jika dahulu beberapa daerah pinggiran sungai bisa dimanfaatkan oleh mereka untuk bercocok tanam/bersawah. Namun, untuk saat ini sawah tersebut tidak bisa dipakai lagi karena warga takut akan terjadi banjir, sawah dengan memanfaatkan tanah di pinggiran sungai Ini dinamakan warga dengan “Sawah pinjaman Tuhan” yang artinya menurut warga lebih kurang; warga yang mengelolah sawah tersebut mau tidak mau harus merelakan jika sewaktu-waktu banjir datang menghantam sawah mereka.
Selain itu dari hasil temuan tim, kondisi air sungai juga cepat berubah-ubah. Jika musim kemarau tiba maka debit air sangat kecil tidak bisa dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk apalagi mengairi sawah. Begitu pula sebaliknya jika musim penghujan tiba air sungai akan meluap tumpah ruah ke pemukiman warga, dan tentu saja tetap akan merusak persawahan milik warga.

Menurut pengakuan dari para tetua desa, desa tua di kawasan tersebut adalah Desa Air Kering, Desa Talang Jawi, Desa Talang Besar. Usia desa ini tidak kurang dari 160 tahun. Awalnya desa-desa tersebut merupakan talang atau tempat masyarakat menetap untuk berkebun dan berladang. Seiring dengan berkembangnya waktu maka lambat laun daerah ini terus berkembang dan mengalami pemekaran hingga saat ini.
Dalam investigasi ini memang belum didapat secara utuh mengenai sejarah berdirinya desa-desa tersebut, namun beberapa fakta sejarah yang telah kami dapat, tersebut dapat dihubungkan dengan kondisi lingkungan Kecamatan Padang Guci Hilir yang kerapkali dilanda banjir.
Desa tertua di kawasan ini adalah desa Air Dikit. desa ini awalnya terletak di daerah lain tepatnya berada di ketinggian bukit sebelah timur sungai Padang Guci. Namun karena gejala alam dan sedikit pemahaman mitos dari masyarakat maka mereka pindah ke kawasan yang saat ini mereka tempati.
Pada awalnya desa yang saat ini mereka tempati merupakan aliran arus dari Sungai Padang Guci, karena terjadi gejala alam/banjir besar yang membelah1 buah bukit maka, aliran air yang pada awalnya berada di tempat yang saat ini ditinggali warga berubah posisi menjadi alur sungai saat ini.
Bukit yang terbelah oleh banjir besar tersebut dinamakan masyarakat dengan “Bukit Batu Langit” keberadaan bukit ini dapat dilihat hingga sekarang. jika secara mitos menurut warga sejarah terbelahnya bukit tersebut yang menyebabkan berubahnya aliran sungai disebabkan oleh pertarungan dua ekor naga. Namun, jika ditelusuri secara ilmiah naga tersebut bisa diartikan sebagai aliran air besar (banjir bandang)
Dengan berubahnya bentuk aliran air, alur aliran air yang lama mengalami pengeringan sehingga terbentanglah satu buah perkampungan yang tentu saja subur karena banyak terdapat endapan lumpur yang dapat menyuburkan tanaman masyarakat. Maka dengan perintah pemuka desa saat itu maka pindahlah warga yang selama ini berada diperbukitan ke lembah bekas alur air Sungai Padang Guci. Maka dari itulah desa tersebut dinamakan desa Air Dikit. Fakta ini diperkuat dengan banyaknya bebatuan sungai yang ditemukan berserakan ditengah-tengah pemukiman warga.
Seringnya banjir dikawasan ini diperkuat dengan cerita rakyat yang mengalir secara turun temurun tentang meninggalnya 9 pasang pengantin yang tersapu oleh air Sungai Padang Guci. Terlepas apapun latarbelakang dari sejarah-sejarah tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa daerah Kecamatan Padang Guci Hilir merupakan satu kawasan yang akrab dengan bencana banjir.

Camat Ali Suanadi menambahkan bahwa, kederasan arus air ini berguyur menggerus badan jalan penghubung Desa Ulak Agung ke Desa Padang Leban Kecamatan Tanjung Kemuning. Menurut analisa di lapangan adalah penyebab tergerusnya pemakaman dan beberapa hektar kebun sawit akibat oprasinya galian C di sekitar pemukiman warga.

Harapan camat Ali kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kaur dan Pemerintah Daerah Provinsi agar bisa mengambil kebijakan tentang terjadinya musibah banjir bandang tersebut.tutupnya.(NASUTION)

 

Bagikan

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
BENGKULUPOST.CO.ID adalah Situs Berita Online yang mempublikasikan informasi harian secara Real Time. BENGKULUPOST.CO.ID berbadan hukum PT Megapers Media Informasi.Akta Notaris No.39 Tanggal 29 Juni 2016 ,Elia Heriani,SH,M.Kn,Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. AHU-0016578.AH.01.11.tahun 2016 Tanggal 11-07-2016 NPWP: 76.471.666.8-327.000 Telpon.: 0822 9011 3369/0822 9011 3379

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed